Meriam ini semula terletak di Karangantu, sebelum dipindahkan ke halaman museum sekarang, sempat ditempatkan di sudut tenggara alun-alun. Pada meriam tersebut terdapat tiga buah prasasti berbentuk lingkaran dengan huruf dan Bahasa Arab. Meriam ini terbuat dari tembaga dengan panjang sekitar sekitar 2,5 m. Meriam ini merupakan hasil rampasan dari tentara Portugis yang di kalahkan. Guna nemudahkan membawa meriam, dibuatkanlah gelang disebelah kiri dan kanannya. Menurut cerita, karena belum ada penelitian ilmiah mengenai kebenarannya Ki Amuk mempunyai kembaran yang benaran yang bernama Ki Jagur, yang memiliki gelang pada pangkalnya dan juga diberi hiasan berbentuk tangan yang sedang mengepal dengan dua jari yang menyeruak di antara jari tengah dan jari telunjuk, yang berada di Museum Fatahillah Jakarta.